السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
semoga bermanfaaat

°\(^▿^)/°

Sabtu, 07 April 2012

Mengenal Bahasa Cia-Cia [바하사 찌아찌아]

Mungkin beberapa orang atau chingudeul ada yang pernah baca tentang kasus ini atau ada yang belum pernah dan belum tau tentang kasus yang menuai kontrovensi bahasa ini.

Bahasa Cia-Cia atau Bahasa Buton Selatan, ialah sejenis bahasa Austronesia yang ditutur di sekitar Kota
Bau-Bau di selatan Pulau Buton di yang terletak di tenggara Pulau Sulawesi di Indonesia.
Pada tahun 2009, bahasa ini menarik perhatian dunia ketika Kota Bau-Bau menerima tulisan Hangul Korea untuk dijadikan sistem tulisan bahasa Cia-Cia.
Dulunya, bahasa Cia-Cia menggunakan sejenis abjad Arab bernama “Gundul” yang tidak memakai tanda untuk bunyi vokal.
Pada tahun 2009, bahasa Cia-Cia menarik perhatian dunia karena Kota Bau-Bau memutuskan agar tulisan Hangul dari Korea digunakan untuk menulis bahasa Cia-Cia, dan mengajar anak-anaknya sistem tulisan baru ini berpandukan buku teks yang dihasilkan oleh Persatuan Hunminjeongeum [Hunminjeongeum research institute]. Institut tersebut telah bertahun-tahun bertungkus-lumus menyebarkan penggunaan abjad Korea ke kaum-kaum minoritas yang tiada sistem tulisan sendiri di merata Asia.
Menurut lurah Karya Baru, memang ada kebudayaan-kebudayaan dan bahasa Cia-cia yang mirip, bahkan sama dengan apa yang dimiliki oleh Korea. Karena kayanya bahasa di Bau-Bau yang mencapai lebih dari 90 bahasa, seorang Professor Korea bernama Chun Thai Yun tertarik kepada Bau-Bau, khususnya etnis Cia-cia. Dari sini, mulai timbul kerjasama antara Cia-cia dan Korea. Dari pertukaran pelajar, pertukaran guru, hingga pertukaran kebudayaan. Hal ini membuat Indonesia, khususnya Cia-cia, makin terdengar namanya oleh masyarakat di luar negeri.
Chun Thai Yun meyakini, ada rahasia menarik di Bau-Bau khususnya keanekaragaman “linguistik” yang ada di daerah tersebut. Ketertarikan Chun ini, terus berlanjut hingga apa yang menjadi fokus ketertarikannnya, diceritakan kepada rekan-rekannya di Seoul National University. Di kampusnya tersebut, ia mempresentasikan ketertarikannya dan mendapat dukungan positif dari dua koleganya yaitu Professor Hu Yung Lee dan Dr. Lee Konam (Abdillah, –). Dengan dukungan penuh dari kampus maupun pemerintahnya, tiga profesor Korea ini, kemudian melakukan berbagai kunjungan, investigasi, dan akhirnya membuahkan sebuah rencana afiliasi konstruktif dengan pihak  pemerintah Bau-Bau. Satu hal pokok yang ada dalam rencana afiliasi tersebut adalah adanya upaya mentransformasi bahasa Cia-Cia ke dalam alphabet “Hangul” Korea.
Sebagai timbal baliknya, Bau-Bau maupun suku dan bahasa  Cia-Cia akan di promosikan secara gencar di publik Korea sehingga wisatawan Korea tertarik dan berkunjung ke Bau-Bau. Upaya ini disambut positif oleh walikota Bau-Bau, Drs. Amirul Tamim. Dengan pertimbangan Bau-Bau akan mendapatkan keuntungan ekonomis jika mengadakan afiliasi dengan pemerintah Korea, Drs. Amirul Tamim melakukan perjanjian tertulis dengan pemerintah Korea. Selanjutnya, melalui yayasan HumMinjeongeum, Dr. Lee Konam merilis di berbagai harian terkemuka Korea tentang kabar gembira ini. Langkah-langkah afiliasi ini dianggap sebagai hal yang sangat cerdas hingga layak menduduki peringkat Headline banyak media massa, cetak maupun elektronik di Korea.
Negara Jepang sebagai negara yang merasa lebih superior dari Korea dan telah lama masuk ke Indonesia, juga menunjukkan rasa penasarannya dan mengirimkan beberapa wartawan untuk menanyakan mengapa pemerintah Bau-Bau mau bekerja sama dengan pemerintah Korea sedang dengan pemerintah Jepang tidak. Bahkan entah ada hubungannya dengan kasus bahasa Cia-Cia atau tidak, sedikitnya 16 orang dari Jerman, didampingi tujuh pendeta melakukan aksi sosial dengan mengambil Bau-Bau sebagai tempat aksi sosial tersebut (Tamam, 2009).
Ditandatanginya afiliasi antara pemerintah Bau-Bau dan Korea menimbulkan banyak kontroversi. Pihak yang mendukung afiliasi tersebut berdiri pada pijakan ekonomi dengan sebuah alasan logis bahwa afiliasi tersebut dapat mengundang investor maupun wisatawan Korea untuk datang ke Indonesia. Selain itu dengan berpijak pada aspek perbaikan mutu pendidikan, semangat yang besar dari Profesor Chun Thai Yun penggagas afiliasi untuk memasukkan aksara Hangul dalam pengajaran bahasa lokal Cia-Cia dianggap dapat berperan meningkatkan mutu pendidikan.
Logikanya, untuk mengajarkan huruf Hangul dengan cepat dan tepat, professor Chun Thai Yun bersama timnya akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan metode pembelajaran inovatif yang dapat mencapai tujuan yang diharapkan dengan cepat dan tepat pula. Adanya metode pembelajaran inovatif ini diharapkan dapat berdampak positif pada dunia pendidikan di kota Bau-Bau karena teknologi-teknologi pendidikan baru yang dimiliki Korea serta tidak dimiliki Bau-Bau akan diterapkan dan diwariskan pada kota tersebut.
Sekarang ini, bahasa Korea mulai diajarkan untuk anak-anak Sekolah Dasar sejak kelas 4 SD. Bahkan di SD Karya Baru, guru bahasa Korea mereka adalah orang Korea asli. Namun untuk tahun ini, guru tersebut diganti oleh guru dari Cia-cia yang sempat mendapat pelatihan di Korea langsung.

nama jalannya juga memakai huruf Hangul (aksara Korea), ataupun nama sekolah yang juga dicantumkan bahasa Koreanya.


Demografi

Pada tahun 2005 ada 80,000 orang penutur bahasa Cia-Cia, 95% diantaranya beragama Islam yang juga berbicara dalam bahasa Wolio. Bahasa Wolio semakin dilupakan sebagai bahasa penulisan kaum Cia-Cia, karena bahasa Indonesia kini diajar dengan abjad Latin di sekolah.

Penyebaran

Bahasa Cia-Cia ditutur di Sulawesi Tenggara, Pulau Buton Selatan, Pulau Binongko, dan Pulau Batu Atas.Menurut kisah lama, penutur bahasa Cia-Cia di Binongko berketurunan bala tentara Buton yang dipimpin oleh Sultan Buton.

Nama

Nama bahasa ini berasal dari perkataan cia yang berarti ‘tidak’. Cia-Cia juga disebut bahasa Buton, Butung, atau Boetoneezen (dari bahasa Belanda) bersama dengan bahasa Wolio, dan bahasa Buton (atau Butung) Selatan.

Logat

Keadaan bahasa di pulau Buton rumit sekali dan kurang dipahami secara teliti. Antara logat-logat Cia-Cia termasuk Kaesabu, Sampolawa (Mambulu-Laporo), Wabula dan Masiri. Loghat Masiri paling banyak kosakatanya dibanding logat baku.

Tulisan

Dulunya, bahasa Cia-Cia menggunakan sejenis abjad Arab bernama “Gundul” yang tidak memakai tanda untuk bunyi vokal.
Pada tahun 2009, bahasa Cia-Cia menarik perhatian dunia karena Kota Bau-Bau memutuskan agar tulisan Hangul dari Korea digunakan untuk menulis bahasa Cia-Cia, dan mengajar anak-anaknya sistem tulisan baru ini berpandukan buku teks yang dihasilkan oleh Persatuan Hunminjeongeum.
Institut tersebut telah bertahun-tahun bertungkus-lumus menyebarkan penggunaan abjad Korea ke kaum-kaum minoritas yang tiada sistem tulisan sendiri di merata Asia.
Abjad Cia-Cia
Konsonan ᄙ*
Latin g k n d dh t r, l m b v bh p s tiada (awal), ‘, ng (tengah, akhir) j c h
IPA [ɡ] [k] [n] [ɗ] [d] [t] [r], [l] [m] [ɓ] [β] [b] [p] [s] -, [ʔ], [ŋ] [dʒ] [tʃ] [h]
Vokal
Latin a e o u i
IPA [a] [e] [o] [u] [i]
* ᄙ bukanlah huruf yang terpisah. Konsonan /r/ dan /l/ tengah dibedakan dengan menulis huruf ㄹ tunggal untuk /r/ dan ganda untuk /l/. Huruf ㄹ ganda harus ditulis dalam dua suku kata. Konsonan /l/ akhir ditulis dengan huruf ㄹ tunggal; untuk konsonan /r/ akhir, huruf vokal kosong ㅡ ditambah. Huruf vokal kosong (으) juga digunakan untuk /l/ awal.
Dalam proses menyesuaikan hangul dalam struktur bahasa Cia-Cia, huruf ㅸ yang tidak terpakai dalam bahasa Korea, digunakan lagi untuk mewakili konsonan /v/.
Contoh: 
아디 세링 빨리 노논또 뗄레ᄫᅵ시. 아마노 노뽀옴바에 이아 나누몬또 뗄레ᄫᅵ시 꼴리에 노몰렝오.
Adi sering pali nononto televisi. Amano nopo’ombae ia nanumonto televisi kolie nomolengo.

Kosakata

Angka 1–10

Bahasa Indonesia satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh
Bahasa Cia-Cia (Hangul) 디세 루아 똘루 빠아 을리마 노오 삐쭈 활루 시우아 옴뿔루
Latin dise rua tolu pa’a lima no’o picu walu siua ompulu

Kata kerja

  • 부리 buri “menulis”
  • 뽀가우 pogau “berbicara”
  • 바짜안 baca’an “membaca”.

Kata nama

  • 까아나 ka’ana “rumah”
  • 시골라 sigola “sekolah”
  • 사요르 sayor “sayur”
  • 보꾸 boku “buku”

Ucapan

  • 따리마 까시 Tarima kasi “Terima kasih”
  • 인다우 미아노 찌아찌아 Indau miano Cia-Cia “Saya orang Cia-Cia”
  • 인다우 뻬엘루 이소오 Indau pe’elu iso’o “Saya cinta kamu”
  • 모아뿌 이사우 Moapu isau “Maafkan saya”
  • 움베 Umbe “Ya”
  • 찌아 Cia “Tidak”
Re-share: neethahyuk
Source: haritzuihere , pusatbahasaalazhar & Wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

saya menerima komentar yang tidak terdapat unsur yang aneh aneh so kalian tulis yg bner aja ya comen2nya..
gamsahamnida ^^